SELAMAT DATANG DI BLOGSPOT TPP KOTA DENPASAR. TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA.

Rabu, 15 April 2026

RAPAT KOORDINASI FORUM BUMDESA SEKOTA DENPASAR DALAM RANGKA PERCEPATAN PEMERINGKATAN BUMDESA 2026

Rapat Koordinasi Percepatan Pemeringkatan BUMDesa Tahun 2026 dilaksanakan pada tanggal 14 April 2026 di ruang rapat DPMD Kota Denpasar. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 Ketua BUMDesa (Bumdesa) se-Kota Denpasar, serta turut hadir juga Kepala Bidang II dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) yang membidangi BUMDesa (Pengampu Bidang BUMDesa).

Dalam rapat tersebut dilakukan evaluasi terhadap progres pemeringkatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing BUMDesa. Selain itu, peserta juga membahas berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pemeringkatan, sehingga dapat dicarikan solusi bersama guna mempercepat penyelesaiannya.

Sebagai hasil rapat, ditegaskan  bahwa Pemeringkatan BUMDesa merupakan suatau evaluasi terhadap diri BUMDesa itu sendiri berdasarkan 7 aspek untuk melihat status dirinya sehingga dari evaluasi tersebut dapat disusun suatu strategi berupa langkah / upaya untuk meningkatkan kembali kinerja dan tata kelola BUMDesa itu untuk bisa menjadi lebih baik dan berstatus Maju.  Dipertegas juga batas waktu penyelesaian pemeringkatan, dan seluruh peserta menyepakati bahwa proses pemeringkatan BUMDesa harus telah selesai 100% paling lambat pada tanggal 18 April 2026. Kesepakatan ini diharapkan dapat mendorong komitmen bersama dalam meningkatkan kinerja dan tata kelola BUMDesa di Kota Denpasar. Detail kegiatan lihat disini 

 

Denpasar, 14 April 2026

Penulis  : I Md Gd Wisnawa (PIC Media Informasi Kota Denpasar)

Senin, 30 Maret 2026

Rakor penguatan dan pemantapan pengelolaan Blogspot TPP Kota Denpasar

 

                      

Pada tanggal 30 Maret 2026 telah dilaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Tenaga Pendamping Profesional (TPP) yang dirangkaikan dengan penguatan pengelolaan Blogspot TPP Kota Denpasar. Kegiatan ini bertempat di Sekretariat TAPM Kota Denpasar dan diikuti oleh seluruh TPP Kota Denpasar, yang terdiri dari Pendamping Lokal Desa (PLD), Pendamping Desa (PD), serta Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM).

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai Upaya tindak lanjut penguatan yang dilakukan di tingkat Provinsi yang telah dilaksanakan melalui daring pada tanggal 26 Maret 2026. Kegiatan ini juga dilakukan untuk meningkatkan koordinasi, evaluasi kinerja, serta kapasitas TPP dalam mendukung pelaksanaan pendampingan di wilayah Kota Denpasar. Dalam agenda Rakor, dilakukan evaluasi terhadap progres capaian pendampingan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing TPP. Proses evaluasi ini difasilitasi oleh Tenaga Ahli (TA) Pengampu, yang memberikan arahan serta masukan strategis guna meningkatkan kualitas dan efektivitas pendampingan di lapangan.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi penguatan pengelolaan Blogspot TPP Kota Denpasar yang difasilitasi langsung oleh PIC Media Informasi Kota Denpasar. Dalam sesi ini, peserta diberikan pemahaman dan keterampilan teknis terkait pengelolaan konten, publikasi informasi kegiatan, serta optimalisasi penggunaan Blogspot sebagai media informasi dan dokumentasi kinerja TPP.

Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan seluruh TPP Kota Denpasar dapat meningkatkan sinergi, kualitas pelaporan, serta kemampuan dalam mengelola media informasi secara efektif dan berkelanjutan.

 

Penulis,

I Made Gede Wisnawa, SP (TAPM Kota Denpasar)

Rabu, 25 Maret 2026

Strategi Pendampingan Masyarakat dalam Menuju Indonesia Emas 2045

 

Pendahuluan 

Pencapaian Indonesia Emas 2045 adalah visi jangka panjang negara yang dicanangkan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju, sejahtera, dan berkeadilan pada 100 tahun kemerdekaannya. Dalam mencapai tujuan tersebut, berbagai upaya perlu dilakukan, utamanya penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi prioritas, dilanjutkan dengan pengembangan infrastruktur, dan peningkatan daya saing ekonomi.  Dalam Upaya pencapaian tersebut, Generasi muda salah satunya menjadi prioritas Khususnya untuk penguatan SDM, karena menjadi generasi masa depan dalam era globalisasi atau sering disebut sebagai Generasi Emas yang mempunyai peran  sangat strategis dalam mensukseskan Pembangunan nasional. Salah satu strategi yang esensial dalam mewujudkan visi Indonesia Emas  2045 adalah kolaborasi pendampingan dalam berbagai aspek bidamg Pembangunan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, hingga masyarakat sipil.

Pengertian Kolaborasi Pendampingan

Kolaborasi pendampingan adalah upaya bersama / upaya terpadu yang melibatkan berbagai aktor dalam mendukung, memfasilitasi, dan memperkuat kapasitas individu atau kelompok tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks mewujudkan Indonesia Emas 2045, kolaborasi pendampingan berarti sinergi antara berbagai elemen masyarakat untuk memberdayakan SDM, meningkatkan kualitas pendidikan, mendorong inovasi, serta memperkuat ekonomi nasional. Kolaborasi pendampingan juga merupakan suatu strategi yang ditempuh dengan tujuan untuk mempermudah, memperingan, dan mempercepat pencapaian tujuan yang ingin dicapai. Dalam rangka pencapaian tujuan Indonesia emas 2045 penguatan dan pendampingan desa juga menjadi suatu strategi seperti apa yang tertuang dalam konsep nawacita yaitu membangun desa dari pinggiran yang artinya Desa sebagai cikal bakal perencanaan Pembangunan nasional yang paling awal harus diperkuat sebagai pondasi untuk mewujudkan Pembangunan nasional sesuai harapan. Dalam Upaya inilah kolaborasi pendampingan ini sangat diperlukan mejadi suatu strategi percepatan dalam pencapaiannya.

Pentingnya Kolaborasi Pendampingan Dalam Berbagai Aspek Pembangunan

1.   Memperkuat Kualitas SDM

Indonesia memiliki potensi besar dengan populasi generasi  muda yang produktif. Namun, potensi ini harus dioptimalkan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan. Kolaborasi pendampingan antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta dapat memastikan bahwa SDM Indonesia memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global. Misalnya, program magang, bimbingan karir, dan pelatihan keterampilan teknis dapat diadakan secara bersama untuk mengasah kompetensi anak muda Indonesia.

2.   Mendorong Inovasi dan Kewirausahaan

Inovasi dan kewirausahaan adalah kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kolaborasi pendampingan antara universitas, pusat penelitian, dan sektor industri dapat menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya ide-ide baru dan startup. Program inkubasi, akselerasi bisnis, dan pendampingan wirausaha adalah contoh inisiatif yang dapat membantu individu mengembangkan ide bisnis mereka menjadi usaha yang sukses.

3.    Pembangunan Infrastruktur dan Teknologi

Infrastruktur yang memadai dan akses terhadap teknologi adalah fondasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, dan pelabuhan, serta infrastruktur digital seperti jaringan internet, sangat diperlukan. Pendampingan dalam bentuk pelatihan dan pengembangan kapasitas juga penting untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan infrastruktur dan teknologi ini secara optimal.

4.    Penguatan Ekonomi Lokal

Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya tentang pembangunan di kota-kota besar, tetapi juga pengembangan daerah dan penguatan ekonomi lokal. Kolaborasi pendampingan dapat membantu UMKM dan sektor informal untuk tumbuh dan bersaing. Misalnya, program pendampingan untuk petani dan nelayan dapat membantu mereka mengadopsi teknologi pertanian modern dan meningkatkan hasil produksi. Selain itu, pendampingan dalam akses ke pasar dan manajemen usaha dapat memperkuat daya saing produk lokal di pasar global.

5.     Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

Partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan nasional adalah salah satu kunci keberhasilan Indonesia Emas 2045. Kolaborasi pendampingan dapat mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai program pembangunan, mulai dari pelatihan kepemimpinan, penguatan komunitas, hingga program pengembangan berbasis masyarakat. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat dapat menjadi agen perubahan yang aktif dalam lingkungan mereka sendiri.

6.     Peningkatan efisiensi dan Saling Memperkuat

Kolaborasi pendampingan membuat pekerjaan lebih cepat dan lancer dengan membantu Tim bekerjasama. Memanfaatkan kekuatan satu sama lain, dan menghindari melakukan pekerjaan yang sama dua kali. Kolaborasi selalu menjadi kesempatan untuk belajar. Kolaborasi Tim memppertemukan peserta dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda, sehingga akan terjadi strategi pola pendampingan yag saling memperkuat.

Contoh Implementasi Kolaborasi Pendampingan

Berikut kami contohkan pola pendampingan efektif dari Tim Pendamping Profesional (TPP) kepada Desa sebagai bagaian terkecil dari sebuah wilayah dalam suatu negara.

 Di Desa terdapat berbagai potensi yang bisa dikembangkan untuk memajukan daerah tersebut. Namun, masih banyak juga desa yang belum mampu mengoptimalkan potensi tersebut karena minimnya akses kepada sumber daya dan informasi yang dibutuhkan. Untuk itu kolaborasi efektif antara narahubung desa, Pendamping Desa, Pendamping Lokal desa, dan TAPM sangat penting untuk mendorong pemberdayaan Masyarakat. Dalam konteks ini kolaborasi efektif yang dilakukan oleh Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa serta TAPM dalam Upaya meningkatkan pemberdayaan Masyarakat desa dengan saling berbagi peran, saling membagi informasi, mengkoordinasikan kegiatan dan saling mendukung dalam melaksanakan program-program Pembangunan desa. TPP dalam hal ini juga mengambil peran sebagai penghubung antara Masyarakat desa dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya. Mereka mengumpulkan informasi-informasi  mengenai program-program Pembangunan, kegiatan social, dan peluang Kerjasama yang dapat bermanfaat bagi Masyarakat desa. Pendamping Desa sebagai Tenaga pendamping di Tingkat kecamatan juga bertugas membantu Masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan program-program pemberdayaan. Mereka bekerjasama dengan desa untuk mengidentifikasi potensi yang ada dan menyusuan rencana strategis untuk mengembangkannya. Pendamping Desa juga membantu dalam mengelola dana desa, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program yang telah dilaksanakan serta memberikan dorongan dan motifasi kepada Masyarakat desa. Pendamping Lokal Desa mengambil peran sebagai jembatan penghubung antara Pendaming Desa dengan Masyarakat. Mereka berperan dalam memfasilitasi komunikasi, mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang dihadapi Masyarakat desa, serta mengajukan usulan-usulan untuk memperbaiki kondisi dan kesejahteraan Masyarakat. Pendamping Lokal Desa juga bertugas sebagai mediator dalam meyelesaikan permasalahan yang timbul di antara Masyarakat desa.

Keuntungan kolaborasi Efektif  Pendampingan

Kolaborasi efektif antara  Pendamping Desa, pendamping Lokal desa dan TAPM memiliki beberapa keunggulan, yaitu: Pertama,  kolaborasi ini memungkinkan adanya pertukaran informasi yang lebih cepat dan akurat antara berbagai pihak. Hal ini memungkinkan pengambilan Keputusan yang lebiih baik dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Kedua, Kolaborasi ini mendorong partisipasi aktif Masyarakat dan membangkitkan semangat gotong royong dalam melaksanakan program-program pemberdayaan. Ketiga, Kolaborasi ini memperluas jaringan Kerjasama dan peluang pendanaan untuk Pembangunan desa.

1.     Program Indonesia Mengajar

Indonesia Mengajar adalah salah satu contoh sukses kolaborasi pendampingan yang melibatkan pemuda Indonesia untuk menjadi pengajar di daerah-daerah terpencil. Program ini menggabungkan peran pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang kurang terjangkau. Melalui pendampingan, para pengajar muda ini tidak hanya mengajar, tetapi juga memberdayakan masyarakat setempat untuk lebih peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka.

2.     Program Startup dan Inovasi Digital

Berbagai program pendampingan startup dan inovasi digital telah diluncurkan oleh pemerintah dan sektor swasta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi. Program seperti Gerakan Nasional 1000 Startup Digital merupakan hasil kolaborasi yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem startup yang dinamis di Indonesia. Melalui program ini, para pelaku startup mendapatkan pendampingan dalam bentuk mentoring, akses ke jaringan investor, dan peluang untuk scaling up.

3.     Pendampingan pertanian Modern

Di sektor pertanian, kolaborasi pendampingan dilakukan melalui program-program yang melibatkan pemerintah, universitas, dan LSM. Contohnya adalah pendampingan petani dalam mengadopsi teknologi pertanian presisi, yang memungkinkan peningkatan produktivitas dan efisiensi. Program ini tidak hanya melibatkan pelatihan teknis, tetapi juga bantuan dalam akses ke pembiayaan dan pemasaran hasil pertanian.

4.     Program Pengembangan Ekonomi Lokal

Salah satu contoh kolaborasi pendampingan dalam pengembangan ekonomi lokal adalah program pendampingan UMKM. Pemerintah, melalui kementerian terkait, bekerja sama dengan bank, lembaga keuangan mikro, dan organisasi non-pemerintah untuk memberikan akses pembiayaan, pelatihan manajemen, dan pendampingan pemasaran kepada pelaku UMKM. Program ini membantu UMKM untuk tumbuh dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Tantangan dan Solusi dalam Kolaborasi Pendampingan

Meskipun memiliki banyak manfaat, kolaborasi efektif juga menghadapi beberapa tantangan, yaitu :

1.     Adanya perbedaan pendapat dan kepentingan diantara pihak-pihak yang terlibat  dapat menyulitkan proses pengambilan Keputusan dan implementasi program.

2.     Adanya keterbatasan sumber daya dan akses terhadap teknologi informasi di desa dapat mempengaruhi efektifitas kolaborasi ini.

3.     Kurangnya pemahaman dan kesadaran Masyarakat tentang pentingnya kolaborasi efektif juga menjadi kendala dalam menggerakkan partisipasi aktif Masyarakat dalam program-program pemberdayaan.

4.     Koordinasi Antar Pihak

Salah satu tantangan terbesar dalam kolaborasi pendampingan adalah koordinasi antar-pihak yang terlibat. Perbedaan tujuan, kebijakan, dan pendekatan dapat menjadi hambatan. Untuk mengatasi ini, diperlukan platform komunikasi yang efektif dan transparansi dalam pelaksanaan program. Pembentukan tim kerja lintas sektor dan penunjukan koordinator yang berkompeten dapat membantu memperlancar koordinasi.

5.       Sumber Daya Terbatas

Keterbatasan sumber daya, baik dari segi dana maupun tenaga ahli, seringkali menjadi kendala dalam pelaksanaan program pendampingan. Solusinya adalah dengan memaksimalkan potensi kolaborasi untuk mengumpulkan dan memobilisasi sumber daya yang ada. Penggunaan teknologi digital dan platform online juga dapat mengurangi biaya dan memperluas jangkauan program pendampingan.

6.       Sustainabilitas Program

Keberlanjutan program pendampingan seringkali menjadi tantangan, terutama ketika sumber daya eksternal berkurang. Untuk memastikan program dapat terus berjalan, penting untuk mengintegrasikan program pendampingan ke dalam kebijakan jangka panjang pemerintah dan memastikan adanya komitmen dari semua pihak yang terlibat. Selain itu, pelibatan komunitas lokal dalam pengelolaan program dapat meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan program.

7.       Penyesuaian dengan Kebutuhan Lokal

Program pendampingan yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan lokal cenderung kurang efektif. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis kebutuhan yang komprehensif sebelum merancang program. Pendekatan partisipatif, di mana masyarakat lokal dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan program, juga dapat memastikan bahwa program tersebut benar-benar relevan dan bermanfaat.

Peluang untuk Meningkatkan Kolaborasi efektif dalam pendampingan

Untuk meningkatkan kolaborasi efektif antara narahubung desa, Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa, ada beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan. Pertama, Pemerintah dapat memberikan pelatihan dan pembekalan  kepada narahubung desa, Pendampping Desa dan Pendamping Lokal Desa agar mereka memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas mereka. Kedua, Pemerintah dapat meningkatkan akses sumber daya dan teknologi informmasi di desa untuk mempermudah komunikasi dan pertikaran informasi antara berbagai pihak. Ketiga,  Masyarakat Desa juga perlu diberdayakan melalui peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang peran serta manfaat kolaborasi efektif.

Kesimpulan

Kolaborasi pendampingan adalah strategi yang krusial dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Melalui sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan masyarakat, berbagai tantangan dalam pembangunan nasional dapat diatasi. Dengan meningkatkan kualitas SDM, mendorong inovasi, memperkuat ekonomi lokal, dan memastikan partisipasi aktif masyarakat, Indonesia dapat mencapai visi menjadi negara maju, sejahtera, dan berkeadilan pada tahun 2045. Namun, untuk mencapai tujuan ini, diperlukan komitmen jangka panjang, koordinasi yang baik, dan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Penulis,

I Made Gede Wisnawa


RAPAT KOORDINASI FORUM BUMDESA SEKOTA DENPASAR DALAM RANGKA PERCEPATAN PEMERINGKATAN BUMDESA 2026

Rapat Koordinasi Percepatan Pemeringkatan BUMDesa Tahun 2026 dilaksanakan pada tanggal 14 April 2026 di ruang rapat DPMD Kota Denpasar. Ke...